Introspeksi

warning: Missing argument 2 for archive_help() in /home/aurw5858/public_html/modules/archive/archive.module on line 7.

Hari itu hari Rabu. Seperti biasa, setelah selesai bekerja saya menghadiri sebuah acara sharing
Malam itu format sharingnya berbeda, ia dikemas mejadi semacam pertunjukan ..
Settingan 2 tempat berbeda, 2 orang laki-laki di satu café (di panggung sebelah kiri), 2 orang wanita di café yang lain (di sudut panggung sebelah kanan)

Sesi 1: (lampu sorot mengarah ke sebelah kanan, sementara sisi lainnya gelap) grup wanita
Yang satu sedang curhat ke temannya, tentang suaminya:
Bagaimana suaminya gak mengerti dia
Selalu marah-marah
Tidak pernah mau diajak kondangan
Dll dsb keluhan ketidakpuasan.
Yang kalau didengarkan seolah-olah kok suaminya itu kejam banget yaaa..
Membuat kita berkomentar “ihhh..kok ada suami kayak gitu!”

Sesi 2: (gantian lampu sorot mengarah ke sebelah kiri, sementara sisi kanan gelap) grup pria
Sama ternyata...Yang satu sedang curhat juga ke temannya, tentang istrinya:
Kebingungan komunikasi, istrinya kalau diajak diskusi suka gak nyambung, cerita lompat-lompat
Bagaimana istrinya diingatkan berkali-kali tentang sesuatu, dari mulai cara halus sampai akhirnya ia lelah dan membuatnya marah
Betapa ia gerah kalau diajak pergi kondangan karena istrinya suka membanding-bandingkan dengan keluarga lain.
Dll dsb keluhan ketidakpuasan.
Yang kalau didengarkan seolah-olah kok istrinya itu istri yang bebal dan menyebalkan!

Hei, kalau dilihat hanya satu sesi, kita cendrung memihak ya
Tapi kalau kita lihat sesi lainnya dan mulai menggabungkan ceritanya
Kita baru paham..
Ohhh…ternyata semua prilaku itu ada triggernya
Dia berlaku demikian itu karena..

Kadang di keseharian kita juga mengalami hal-hal seperti itu ..
Kita berkeluh kesah akan sesuatu, betapa tidak adil, or somekind like that
Belajar dari pesan yang mau disampaikan oleh pertunjukan di atas
Sebelum kita menyalahkan keluar
Misal berkomentar:
“terang aja dia berhasil, wong dia pintar, saya kan cuma ulusan SMA”
“ya dia pasti sukses, dekingannya banyak. Saya kan hanya orang desa”

Ada baiknya kita introspeksi diri dulu
“sudahkah saya berusaha seperti dia berusaha?”
Hey hey..
Kadang kita hanya lihat hasil akhir orang dan sudah berkomentar macam-macam!
Padahal kita kan gak lihat dia berproses…gak menemani kisahnya sampai dia jadi sekarang ini

Jadi,
dalam segala situasi yang terjadi atas kehidupan kita
Sebelum kita menunjuk ke luar, mari kita lihat/memeriksa dalam diri kita sendiri dulu
Introspeksi!
Kadang dengan introspeksi bisa menemukan
“Ternyata…aku juga punya kontribusi…”
“Ternyata jadi begini karena aku pernah begitu”

Semua berawal dari “aku”…

What is that’s hard to break?
Diamond are hard to find but not hard to break..

What is the hardest thing to break then..?
HABIT

If you break the H, you still have A BIT
If you break the A, you still have BIT
If you break the B, you still have IT
How after you break the T in IT?
There is still the “I”

And that ”I” is the root cause of all the problems…

picture taken from http://thelittlechimpsociety.com/2010/08/john-hall-introspection-ii/