change your perception, change your paradigm!

warning: Missing argument 2 for archive_help() in /home/aurw5858/public_html/modules/archive/archive.module on line 7.

Hai hai hai…Sudah Senin lagi… mudah-mudahan pada refresh dan sehat-sehat :)

Hari Minggu kemarin seperti biasa saya menginvestasikan 1 jam waktu untuk riset via internet…cari-cari bahan apa saja untuk mendukung project-project baik pekerjaan maupun pribadi :)
Saya menemukan 1 gambar menarik tentang persepsi dari blog milik David Armano: Logic+Emotion

Gambar di atas ingin menyampaikan bahwa bagaimana kita terlihat(berprilaku, bertutur) sangat dipengaruhi dari cara kita berpikir.

Kenapa tiba-tiba saya jadi tertarik membahas tentang persepsi?
Karena waktu long weekend kemarin, saya menemukan bahwa saya sedang terjebak pada persepsi negatif.
Persepsi negatif ini membuat perasaan saya tak menentu (sedih, tertekan) dan berefek pada keseharian bahkan keputusan-keputusan…
selain dapat membuat kita menjadi orang yg negatif dalam memandang segala hal, badan juga terasa lelah karena pikiran/persepsi negatif mengkonsumsi cepat energi tubuh kita..selain itu persepsi negatif dapat menular ke sekitar
astaga! Kalau kita berlama-lama terjebak di persepsi negatif bisa dibayangkan efeknya..

Hanny Muchtar Darta, praktisi PSYCH-K di Jakarta berujar: “Jangan sepelekan persepsi. Sebab, realitas hidup kita sangat tergantung pada persepsi yang tertanam di alam bawah sadar kita (subconscious mind)“.
Mengutip sebuah hasil penelitian: dalam satu hari manusia mampu memiliki rata-rata 500 pikiran. 432 diantaranya pikiran negatif dan 68 sisanya pikiran positif.
Dan..sebagian besar dari 432 pikiran negatif kemudian ditransformasi menjadi perbuatan atau perkataan.
What????!!
Ga nyangka ya?!
Celakanya kita sering tidak sadar saat berpikiran/berkata/berprilaku negatif
Contohnhya kayak apa siy? Gini diantaranya:
saat bangun pagi mendapati baju belum disetrika sama Mba dan kita kita berkata dalam hati: “Gak becus banget sih kerja gini aja lupa melulu!”
saat makan siang kita keluar dari loby kantor dan mendapati cuaca di luar sangat panas lalu kita berkata dalam hati: “Edan, panasnya! Gak enak!”
saat malam hari sampai di rumah dan mendapati anak memperoleh nilai buruk di sekolah lalu kita nyeletuk “Kamu sih malas belajar!”
and so on and so on and so on…

Kebayang ya kalau 86% pikiran kita dipenuhi hal negatif maka gak heran kalau kita ini gampang banget tersulut emosinya..gampang banget termakan hasutan..gampang banget bertindak merusak..cepet cape!

Bisa gak dirubah proporsi negatif postifnya?
Jawabannya BISA!
Karena kita punya kebebasan untuk memilih…termasuk memilih apa yang berseliweran di pikiran kita :)

Benedictine Widyasinta dan M. Sholekhudin menulis demikian di Intisari Edisi Februari 2011:
Pada anak-anak, terutama di bawah sebelas tahun, persepsi sangat mudah terbentuk dari ucapan yang mereka dengar sehari-hari. Pasalnya, pikiran rasional mereka belum berkembang sempurna dibandingkan dengan orang dewasa yang lebih rasional dalam mengolah informasi.
Oleh karena itu untuk para orang tua, diharapkan lebih mampu mengendalikan diri untuk dapat selalu memiliki persepsi positif. Memilah-milah kata-kata positif saat berkomunikasi dengan anak-anak.
Contoh: lebih baik berkata: “Lain kali kamu bisa kok dapat nilai lebih baik asal lebih rajin belajarnya!” daripada “Kamu sih malas belajar! Sudah dibilang berkali-kali!”

Bagaimana ya jika persepsi sudah terlanjur tertanam di dalam otak? Bagaimana cara mengubahnya?
Persepsi dalam diri ibarat program yang ter-install di komputer kita..
Kalau mau diganti…kita harus meng-uninstall program lama dan meng-install program baru.
Di otak, proses menghapus persepsi lama dan menanam persepsi baru bisa dilakukan dalam hitungan menit atau sampai beberapa bulan..
Bedanya, pada otak, kita harus secara konstan, konsisten melakukan ‘pembersihan diri’ berkesadaran untuk selalu berada di frekuensi positif: berpikir positif, berprilaku positif, berkata-kata positif, bahkan berkumpul dengan teman-teman yang positif.

Lalu timbulah pertanyaan,
“Gimana caranya bisa stay positive thinking?”
“Gue sadar gue lagi terpuruk di dalam masalah…dalam area negatif, gimana caranya biar bisa cepat keluar?”

Yuk sama-sama belajar :)

Beberapa cara untuk merubah persepsi negatif menjadi positif disarikan atau dikutip dari tulisan Selalu Optimis, Bersikap dan Berpikir Positif oleh Lena Lase di blognya antara lain:

1. Mengubah fokus /merusak pola
Kalau ada pikiran negatif tiba-tiba terlintas, kita bisa dengan tiba-tiba juga memutuskan untuk fokus pada hal lain yang lebih positif
Seperti saya, biasanya kalau ada hal-hal negatif tiba-tiba datang, saya akan berkata berulang-ulang pada diri saya “I intend to have a happy day.” Lalu fokus kembali pada aktivitas yang sedang dilakukan

2. Perbandingan
Jika kita sedang terpuruk pada zona negatif biasanya kita akan berkutat saja mengasihani, menangisi diri sendiri..
Beranikan diri untuk berhenti sejenak, lalu berjalan-jalan ke sekitar atau bahkan menawarkan membantu orang lain.
Berdasarkan pengalaman… mendengarkan permasalahan orang lain saat saya sendiri sedang sedih/susah akan sangat membantu saya bersyukur bahwa saya masih jauh lebih beruntung, kesulitan saya tidak sebanding dengan apa yang dialami orang lain dan segera mengembalikan saya ke frekuensi positif.

3. Berserah diri pada Tuhan
Mungkin saat ini Anda tengah mengalami Storm of Correction (Badai Koreksi) karena pernah melakukan kesalahan sebelumnya dan saat ini tengah dikoreksi oleh Yang Maha Kuasa. Atau boleh jadi sedang ada Storm of Perfection (Badai menuju Kesempurnaan) yaitu ujian yang harus dialami orang-orang yang selalu berjalan pada kebenaran agar orang tersebut bisa menjadi lebih sempurna. Yakini dan imanilah bahwa setelah badai itu reda, akan ada cuaca cerah dan harapan baru yang jauh lebih baik daripada yang pernah anda dapatkan sebelumnya. Tuhan akan membantu anda pada waktu yang tepat menurutNYA, bukan menurut waktu kita.

Setelah kita kembali ke frekuensi positif, kita dapat mulai melatih melihat satu hal dari berbagai sisi/persepsi… sehingga kita dapat lebih legowo (lega) dalam menghadapi segala sesuatu.

Terakhir..
- Mengubah persepsi negatif menjadi persepsi positif tidak lantas menghilangkan masalah yang mungkin sedang dihadapi.
Persepsi positf digunakan untuk membantu kita berpikiran jernih dalam mencari pemecahan masalah daripada berkutat memikirkan masalah
- Pikiran negatif juga diperlukan dalam kehidupan ini karena tidaklah mungkin seseorang hidup dengan pikiran positif saja
Yang terpenting kita sudah memiliki pengetahuan bahwa pikiran positif itu lebih menguntungkan
Kembali lagi ke kebebasan memilih..kita sendiri yang harus memutuskan, kapan ingin berpikir positif dan kapan ingin berpikir negatif.

Have a nice day!