Berteman

warning: Missing argument 2 for archive_help() in /home/aurw5858/public_html/modules/archive/archive.module on line 7.

"Sahabat adalah kebutuhan jiwa yang mendapatkan imbangan. …Carilah ia, untuk bersama menghidupkan sang waktu!!
Sebab dialah orang untuk mengisi kekuranganmu,
bukan sekedar mengisi kesenanganmu.. .
berbagi duka dan kebahagiaan. …."

(Kahlil Gibran--Sang Nabi)

Sering pastinya dengar kata "berteman"
Definisi teman yang saya sarikan antara lain:
orang yang dekat, yang bersama-sama bekerja, sama-sama bertumbuh, teman bercakap-cakap (mendengar dan berbicara), seperjalanan, menjadi pelengkap satu dan yang lain.
Saat kita berkata "saya adalah pacar.." "saya adalah suami/istri dari.." "saya dan dia bersaudara" sejatinya kita adalah teman satu bagi yang lain.

Namun berapa diantaranya yang benar-benar masih "berteman" saat menjalani hubungan tersebut?

Banyak pasangan berhenti untuk saling mengenal satu sama lain,
ada yang enggan berbicara,
ada suami istri yang sudah tidak tidur sekamar,
ada orang tua dan anak yang sudah tidak saling menyapa bertahun-tahun..

Statusnya masih disandang tapi tidak dalam prilakunya: tidak menunjukkan kepedulian satu sama lain, tidak saling menyapa, tidak saling bertemu, tidak lagi seperjalanan menuju tujuan yang sama.. berhenti untuk saling melengkapi

Padahal dulu ya kalau mau diingat-ingat:
Ketika awal-awal kenalan, wahh senangnya! Kalau kemana pun pasti bareng! gak ada lu, gak rame! (mengutip slogan rokok ^_^)
Pas lagi jaman ngejar-ngejar untuk dijadikan pacar, hebohnya segala cara romantis dilakukan, berdoa semoga dia mau jadi pacar, menembar janji-janji manis ^_^
Atau saat berlutut melamar seorang gadis: berdoa agar ia mau menikahimu, berjanji mau bertumbuh, kuat mengarungi bahtera pernikahan bersama
Tiba di pelaminan, berjanji sehidup semati berbagi bahagia mendukung dalam duka, selalu hadir saat dibutuhkan
Ketika sudah menikah, berdoa memohon dikaruniai anak serta memohon umur panjang agar sampai bisa menemani menimang cucu.

Seiring berjalannya waktu, semakin mengenal satu sama lain
Bersama melalui berbagai situasi sifat, reaksi, cara berpikir, cara bertindak, pengambilan keputusan, dan karakter akan semakin tampak.
Saling dapat melihat kelebihan bahkan kekurangan.. ada sifat yang disuka banyak juga yang tidak berkenan
Istilah yang sering didengar “baru kelihatan aslinya” ^_^
Saat begitu, kadang kita tidak siap terima kenyataan.. sehingga memutuskan berhenti "berteman"...

Memang sih...bisa saja yang tadinya teman jadi tidak temanan lagi
kalau pacaran bisa putus
Pasangan bertunangan juga masih bisa dibatalkan
Begitu pula dengan pernikahan...jika sampai memutuskan kemudian pisah.. sering ya kita dengar "si anu bekas istrinya..." atau "dia bekas suaminya..."
tapi bayangkan kalau keluarga..gak pernah dengar ya ada orang bilang "Eh, dia itu bekas orang tuanya si A" atau "Saya ini bekas anaknya si B"

Tidak sedikit juga yang berharap dengan mengganti partner "berteman" jadi lebih baik
padahal dengan siapa saja, prosesnya pasti sama
kadang banyak ditemui, memang ketika ganti partner, jadi lebih baik, lebih indah
Namun kalau mau disadari..coba renungkan jauh dalam hati..sebenarnya itu karena kita sudah punya pengalaman buruk sebelumnya...sehingga kita beradaptasi, bertransformasi, dan menjadi lebih baik.. kita tidak mau kejadian sebelumnya terulang lagi jadi saat kita "berteman" dengan partner baru, kita menjadi lebih dewasa, lebih berhati-hati.
Nah, Itu yang membuat lebih berhasil!! Berusaha menjadi lebih baik!
Jadi, mengapa tidak kita coba bersama dengan yang sekarang?^_^

Melihat mendengar mengamati proses pertemanan yang ada di sekitar, mau coba berbagi beberapa faktor pendukung penting yang dibutuhkan agar proses "berteman" dapat terus berlanjut:

  1. Komunikasi
    Komunikasi antara pihak yang "berteman" harus terus dijalin
    Dengan saling bercakap-cakap, kita saling menyapa, mengutarakan pikiran kita, menyatakan perasaan, atau berdiskusi tentang hal-hal
    Berkomunikasi menjadi sarana meluruskan kesalahpahaman, juga menunjukkan tanda bahwa "saya masih ingin terhubung denganmu"
  2. Proaktif
    Dibutuhkan sikap proaktif dalam berteman: keinginan mencari tahu, kesediaan untuk saling menahan diri saat suasana sedang "panas", kelapangan hati untuk mau mengakui kesalahan jika memang salah, kerendahan hati untuk memaafkan satu dengan yang lain, kesabaran untuk memberi kesempatan lagi.
    Proaktif membuat roda pertemanan terus berputar
  3. Adaptasi
    "berteman" yang langgeng butuh proses adaptasi yang terus menerus. Mengapa demikian? karena kemungkinan dihadapkan pada situasi baru selalu ada
    Contoh sederhana: saat pacaran kita hanya "berteman" dengannya di jam-jam tertentu, melihatnya mostly dalam kondisi terbaik (dandanan rapi menarik, cantik atau tampan)
    Namun ketika sudah hidup bersama dalam pernikahan, kita akan "berteman" dengannya setiap saat. Anda berdua akan terikat kontrak L7 (loe lagi loe lagi...laaaahhh loe lagi!)
    Anda akan melihatnya saat tidak bermake-up, bagaimana rupanya ketika bangun tidur, seperti apa kebiasaannya sehabis pulang beraktivitas, sikap apa yang muncul ketika dihadapkan pada situasi-situasi sulit misalnya sehabis bertengkar hebat, dst.
    Seperti sebuah pepatah: "Tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri"
    sekali lagi: jadilah pribadi yang siap beradaptasi dengan segala situasi yang ada
  4. Setia
    Setia yang dimaksud disini adalah setia untuk mau konsisten melakukan ke-empat faktor pendukung "berteman"
    setia untuk terus berkomunikasi
    setia untuk menjadi proaktif
    setia untuk mau beradaptasi
    setia untuk setia
    di kala badai-badai pertemanan menghantam, selalu setia untuk bertahan

Terakhir,
Mengulang lagi pembukaan di atas,
awalan "ber" pada kata "berteman" artinya saling!
Jadi keberhasilan pertemanan adalah kontribusi seimbang dari semua yang terlibat di dalamnya
Tidak menjadi tugas si A yang harus berubah, si B yang harus mengerti saya, si C yang harusnya berusaha, dll, dsb
kontribusi seimbang semua individu di dalamnya
sebelum menunjuk keluar, sebaiknya kita introspeksi ke dalam dulu:
“Sudahkah saya berlaku seperti saya ingin diperlakukan? “
“Sudahkah saya sendiri melakukan faktor penting dalam proses “berteman” dengan orang-orang di sekitar saya? Pasangan, keluarga, anak, rekan kerja, pegawai, dll?”

Have a nice weekday Prens

gambar diambil dari http://ekojuliantoblogspotcom.blogspot.com/